suhu vertikal
VARIABILITAS
SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN CISADANE
Samilah
Ilmu kelautan
Abstrak
Penelitian telah dilakukan di perairan pesisir
Estuaria Cisadane pada 18 stasiun oseanografi, yang masing-masing untuk Musim
Peralihan Satu (MPS), Musim Timur (MT) dan Musim Peralihan Dua (MPD) dari tahun
2003 s/d 2005. Daerah penelitian di perairan ini terletak pada bujur 106.58° -
106.70° BT, dan Lintang; 5.96° - 6.02°LS. Pengukuran suhu dan salinitas,
turbiditas dan transmisi cahaya telah menggunakan CTD (Conductivity,
Temperature and Depth) Model SBE19. Hasil menunjukkan variabilitas profil
vertikal suhu dan salinitas di perairan pesisir Estuari Cisadane mengalami
perubahan di bawah pengaruh musim MPS, MT dan MPD sebagai contoh diperolehnya
waktu tinggal (leg time) salinitas maksimum pada MPD adalah salinitas MT.
Berdasarkan analisa pola sebaran secara horizontal dan vertikal dari interkasi
antara air tawar bersalinitas rendah dari muara S. Cisadane dengan salinitas
tinggi dari L. Jawa adalah dipengaruhi juga oleh variabilitas musim dan
pasang-surut. Lapisan permukaan lebih banyak dipengaruhi oleh salinitas rendah
dan panas cahaya matahari (variabilitas musiman), dengan intensitas yang
melemah ke bawah permukaan. Perubahan energi panas oleh penaikan suhu musiman
terjadi pada bulan September 2003 ke Mei-2004 (∆E = 600.6x105 Joule), Juni ke
November 2005; (∆E = 84.9x105 Joule).
Penurunan Energi panas terjadi pada; Juni ke September 2003 (-267.6
x105), Mei ke Oktober 2004 (∆E = 189.3 x105 Joule) dan Oktober 2004 ke Juni
2005 (∆E = -215.4 x105 Joule).
Abstract
The Temperature and
Salinity Variabilities at Cisadane Estuary. The study was conducted at Cisadane
Estuary at 18 oceanographic station in Transition Monsoon Season I, East
Monsoon Season, and Transition Monsoon Season II from 2003 to 2005. The area of
the study was located at the longitude of 106.58° - 106.70° E and the latitude
of 5.96° - 6.02°S. The measurements of temperature, salinity, tubidity and
light transmision used CTD (Conductivity, Temperature and Depth) Model SBE-19.
The result shows that the temperature and salinity vertical profil variabilities
at Cisadane Estuary underwent a change in the influence of Transition Monsoon
Season I, East Monsoon Season, and Transition Monsoon Season II, for example it
was obtained the leg time of the maximum salinity of Transition Monsoon Season II as the same as
that of East Monsoon Season. Based on the horizontal and vertical distribution
pattern analysis of the interaction between low salinity fresh water of
Cisadane River and high salinity sea water of Java Sea, it was also influenced
by the season variability and tide. The surface layer was much more influenced
by the low salinity and the heat of sunray (seasonal variability) with the
weaker intensity to the lower layer. The change of the heat energy by the
increase of seasonal temperature occurred in September 2003 to May 2004 ((∆E =
600.6 ⋅ 105 Joule), July to
November 2005 (∆E = 84.9 Joule). The decrease of the heat energy occurred in
June to September 2003 ((-267.6 ⋅
105), May ke October 2004 (∆E = 189.3 ⋅
105 Joule) and October 2004 to July 2005 (∆E = -215.4 ⋅ 105 Joule).
Keywords: variability,
temperature, salinity, monsoon, Cisadane
1.
Pendahuluan
Perairan pesisir
sekitar Estuari Cisadane merupakan daerah yang potensial bagi pembagunan sosial
dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Perairan ini telah lama dimanfaatkan oleh
masyarakat sekitar untuk kegiatan transportasi, perikanan, rekreasi dan
sebagainya. Perairan
ini merupakan daerah peralihan antara wilayah daratan dan laut lepas, sehingga
ada interaksi diantaranya. Faktor-faktor yang mempenagruhi suhu permukaan air
laut dan suhu udara ialah keseimbangnan kalor dan keseimbangan masa air di
lapisan permukaan laut. Faktor meteorologi yang mengatur keseimbangan ialah
curah hujan, penguapan,
MAKARA, SAINS, VOLUME
12, NO. 2, NOVEMBER 2008: 82-88 83
kelembaban,
suhu udara, kecepatan angin, penyinaran matahari dan suhu permukaan laut itu
sendiri. Kondisi iklim mempunyai peran utama terhadap permukaan air laut,
sehingga di Indonesia mempunya empat musim dalam Wyrtki [1]. Faktor-faktor yang
mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan
panas (heat flux), curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola
sirkulasi arus. Perubahan pada suhu dan salinitas akan menaikan atau mengurangi
densitas air laut di lapisan permukaan sehingga memicu terjadinya konveksi ke
lapisan bawah menurut Robert [2]. Pola
arus pada perairan muara pada umumnya dibangkitkan oleh tiga gaya dasar yang
bekerja sekaligus yaitu pasang surut, angin dan aliran sungai itu sendiri. Kecepatan arus di perairan pantai sangat
bergantung kepada musim dalam Hsu [3] dan arus pasut serta arus sungai menurut
Healy [4]. Jika energi pasut dan aliran sungai cukup kuat, maka di muara sungai
akan terjadi pola stratifikasi massa air suhu dan salinitas karena aliran
sungai dan pasut dalam Pickard [5]. Arus pantai yang ditimbulkan oleh arus
sungai, pasut dan angin bisa menyebarkan biomasa, polutan atau tumpahan minyak
secara horizontal atau turbulensi secara vertikal dalam Valencia [6]. Suhu
permukaan di daerah muara lebih tinggi dari pada di daerah perairan Teluk
Jakarta. Suhu di Teluk Jakarta antara 25.6 – 32.32°C dan salinitas bervariasi
antara 0.5 – 33.46 psu.
Salinitas
maksimum pengaruh dari Laut Cina Selatan dan Laut Flores dalam Ilahude et al.
[7]. Pengaruh musim dan daratan yang kuat di Teluk Jakarta terhadap suhu
permukaan laut oleh Arief [8]. Perairan Cisadane yang berdekatan dengan Teluk
Jakarta dengan sungainya cukup besar, maka pengaruh daratan akan cukup
berpengaruh yang ditandai oleh adanya arus sungai, salinitas rendah dan
kenaikan suhu. Karena kedekatan antara Teluk Jakarta dengan peraiaran Cisadane
maka suhu atau salinitas yang terbawa oleh arus sudah diperkirakan akan
berubah. Kekuatan arus dalam Teluk Jakarta lebih lemah dari kekuatan arus
diluar teluk dalam Kastoro & Birowo [9]. Menurut Kastoro [10] di Teluk
Jakarta nilai suhu bulanan antara 28.2 – 28.8°C dan salinitas antara 30.5 –
33.6psu. Di Teluk Jakarta bahwa suhu bulan Juni dan September 2003, Mei dan
Oktober 2004 di bagian permukaan diperoleh lebih besar dari dekat dasar.
Distribusi salinitas pengaruh musim dan sungai masih dominan dalam Hadikusumah
[11]. Pada perairan muara Cisadane yang lebih dominan adalah gaya pembangkit
pasang surut, sedangkan gaya pembangkit oleh angin dan aliran Sungai Cisadane
akan memperkecil, yaitu jika arah angin bersebrangan dengan arus pasut, dan
sebaliknya jika arah angin searah dengan arus pasut, maka arus akan bertambah.
Sedangkan arus sungai akan diteruskan secara cepat jika arus pasut sedang
surut, sebaliknya jika arus pasut menuju kearah darat, maka arus sungai akan
dihambat, dengan hasil salinitas lebih tinggi akan mengalir dibawahnya arus
sungai yang selalu mengarah kearah laut dan bersalinitas rendah sekali
(freshwater). 2. Metode Penelitian Penelitian telah dilakukan pada tiga musim,
yaitu: bulan Mei 2004 jatuh pada akhir Musim Peralihan Satu (MPS), bulan
Juni-2003 dan Juni-2005 jatuh pada awal Musim Timur (MT), September-2003,
Oktober-2004 dan November-2005 jatuh pada Musim Peralihan Dua (MPD). Pengukuran
masa air menggunakan CTD (Conductivity, Temperature and Depth) Model SBE-19
pada 18 stasiun oseanografi untuk setiap survei. Lokasi penelitian dibatasi
antara Bujur: 106.58° - 106.70° BT, dan Lintang: 5.96° - 6.02°LS (Gambar 1),
Untuk mendukung penelitian ini, digunakan data sekunder meteorologi tahun
2003-2005 BMG, lokasi Tj. Priuk [12] dan lokasi Bandara Cengkareng [13].
Analisa suhu dan salinitas baik secara horizontal maupun vertikal ialah
menggunakan software Surfer dan grafik menggunakan Excel Program.
Untuk mengetahui variasi suhu dan salinitas di
perairan ini dalam waktu tiga musim, dilakukan analisa stastistik rata-rata
suhu dan salinitas pada kolom perairan (16 stasiun), dan rata-rata lapisan
menurut musim menggunakan persamaan (1),
∑ = = N 1 i i N 1 xX h , (1) Dimana: x : suhu (°C) atau salinitas (psu), h :
kedalaman x dari permukaan air (m), n :
jumlah (banyaknya) data. Analisa kuantisasi perubahan energi panas, ∆E (Joule),
pada ketiga musim, diperoleh dari persamaan (2), 106.58°E 106.61°E 106.64°E
106.67°E 106.70°E -04°S-6.02°S-6.00°S-5.98°S-5.96°S216345615714 1381291110117
18
MAKARA,
SAINS, VOLUME 12, NO. 2, NOVEMBER 2008: 82-88
84
∆
E = m Cp ∆ T (Joule)
Dimana: m : massa air (kg) Cp : kapasitas panas jenis
air laut = 4000 (J. Kg-1. °C-1) ∆ T : beda suhu musiman pada kolom air.
Hasil dan Pembahasan
Pola curah hujan di
lokasi Bandara Cengkareng dan Tj. Priuk untuk tahun 2003, 2004 dan 2005
mempunyai pola yang hampir sama tiap bulanannya dan nilainya tidak banyak
berbeda. Rata-rata curah hujan tahun 2003 dari dua lokasi tersebut pada MB (60
– 362 mm) ialah lebih besar dari MPS (29 – 92.5 mm) dan MPD (44 - 145 mm), sedangkan MT ialah
paling rendah (0 – 4.5 mm). Tahun 2004
pada MB (128 – 555 mm) ialah lebih besar dari MPS (63.5 – 154 mm) dan MPD (2.5 – 118.5 mm), sedangkan MT ialah
paling rendah (5 – 34.5 mm). Tahun 2004 pada MB (163 – 444 mm) ialah lebih
besar dari MPS (103 – 290.5 mm) dan MPD
(44 – 90.5 mm), sedangkan MT ialah paling rendah (34 – 158 mm). Profil suhu dan salinitas hasil pengukuran di
perairan Estuari Cisadane antara tahun 2003 - 2005, secara umum memperlihatkan
berkurangnya suhu air dari permukaan ke dasar dan meningkatnya salinitas dengan
bertambahnya kedalaman Pola stratifikasi suhu dan salinitas di perairan
Cisadane secara umum diperoleh 3 lapisan, yaitu lapisan homogen di lapisan
permukaan (mixing layer depth), lapisan tengah (lapisan termoklin) yang sangat
tipis dan lapisan dalam dekat dasar. Namun, lapisan termoklin tidak begitu
jelas (tipis), tidak seperti lapisan termoklin di laut dalam, contoh Laut
Flores [13]. Kondisi demikian menandakan bahwa kedalaman perairan Cisadane
termasuk perairan dangkal (<30 m), yang mana energi tiupan angin (wind
stress) akan mempengaruhi sampai dasar sehingga perbedaan suhu bagian permukaan
dan dekat dasar tidak begitu besar (∆T =~ 0.7°C), sedangkan dilaut dalam ∆T =
~25°C [12]. Misalnya untuk Juni 2003, kedalaman lapisan permukaan ialah 1 m dan
lapisan termoklin antara 1 – 3.6 m dengan suhu antara 29.788 – 29.292°C dan
suhu dasar 29.105°C. Demikian, untuk September 2003, kedalaman lapisan
permukaan ialah 1 m dan ketebalan lapisan termoklin antara 1 – 3.6 m dengan
suhu antara 29.487 – 29.105°C dan suhu dasar 28.637°C . Secara keseluruhan bahwa suhu rata-rata
antara 2003 s/d 2005 didapatkan suhu permukaan paling rendah (29.02°C) di bulan
September 2003 (28 mm), ini diduga hujan paling banyak pada periode tersebut,
dengan ditandai oleh salinitas paling rendah (29.545psu). Nilai ini menandakan
bahwa pengaruh air tawar Sungai
Cisadane sangat signifikan (kuat) bahkan pengaruhnya sampai di kedalaman
16 m atau sampai dasar dengan nilai salinitas 29.105psu dan suhu 28.637°C
(Tabel 1 dan Gambar 3). Jika dibandingkan dengan suhu Teluk Jakarta tahun 1977
(28.5°C) menujukkan bahwa suhu perairan Cisadane (2005) telah mengalami
pemanasan sebesar kira-kira 0.5°C selama 28 tahun. Perubahan suhu tersebut
dimungkinkan oleh tekanan massa air sungai dari daratan dan ini tidak terlepas
dengan massa air Teluk Jakarta.
Waktu/Musim Suhu (°C)
Salinitas (psu) Mini- mum Maksi- mum Rata- rata Mini- mum Maksi- mum Rata- rata
Mei 2004/MPS 29.70 30.21 30.01 31.078 32.409 32.030 Juni 2003/MT 29.20 29.79
29.45 31.794 32.452 32.222 Juni 2005/MT 30.01 30.42 30.03 31.131 2.358 31.985
Sept.2003/MPD 27.33 29.52 29.02 29.200 29.794 29.455 Okt. 2004/MPD 30.20 30.66
30.40 30.500 32.980 32.191 Nov.2005/MPD 30.06 31.21 30.51 32.564 33.245 32.998
Suhu
rata-rata pada bulan Juni 2003 (29.45°C) termasuk sedikit lebih hangat (∆T =
0.54°C) dari bulan September 2003, ini diduga pengaruh musim barat, yaitu suhu
rendah dan ini pun didukung oleh salinitas yang masih rendah ialah 32.029 psu.
Salinitas rendah antara permukaan s/d ~ 4 m adalah lapisan yang paling kuat
dipengaruhi oleh air Sungai Cisadane. Profil suhu maupun salinitas di bawah
kedalaman 4 s/d 5 m nilainya homogen sampai dasar. Suhu rata-rata pada bulan
Juni 2005 (30.03°C) dan Mei 2004 (30.01°C) di bagian permukaan hampir sama,
namun makin kedalam dari 8.2 m s/d 16 m, hampir sama. Suhu rata-rata permukaan
bulan November 2005 (30.51°C) ialah lebih tinggi dari bulan Oktober 2004
(30.40°C) dan makin kedalam, masing-masing menurun. Suhu rata-rata pada
kedalaman 2 m bulan Oktober lebih tinggi dibandingkan dengan November 2005, ini
diduga bahwa suhu tersebut dipengaruhi oleh MPD, sedangkan suhu bulan November
lebih rendah, karena sudah ada pendinginan dari salinitas Laut Jawa. Pola suhu
bulan November secara umum sama dengan suhu paling rendah (<27,6 °C) dan
salinitas maksimum (34.06 psu) di tengah perairan Laut Jawa sebagai main stream
atau core-nya Laut Jawa adalah pengaruh dari Laut Flores [14] dan Selat
Makassar [15]. Salinitas rata-rata bulan Oktober diperoleh lebih tinggi dengan
curah hujan 115 mm dari salinitas bulan November 2005 dengan curah hujan 117
mm, ini diduga bahwa salinitas maksimum Laut Jawa masuk perairan Cisadane atau
Teluk Jakarta, masih tersimpan sampai bulan November 2005. Suhu dan salinitas
S. Cisadane pada stasiun St.17 dan St.18 adalah mempunyai nilai minimum yang
teramati di lokasi penelitian. Nilai rata-rata antar musim perairan Cisadane
(39.90°C) ialah lebih rendah dibandingkan dengan Teluk Jakarta (30.06°C) dalam
Hadikusumah [11]. Ini wajar karena perairan Cisadane yang mendapat pengaruh
tekanan darat masih lebih rendah dibandingkan dari Kota Jakarta ke Teluk
Jakarta.
Sebagai contoh pola sebaran harizontal suhu
bagian permukaan dan dekat dasar bulan Juni 2005 sebelah timur lebih panas
(Tanjung Pasir) dibandingkan suhu yang keluar dari muara S. Cisadane. Diketahui
bahwa kawasan Tanjung Pasir mempunyai jumlah penduduk yang lebih tinggi dari
kawasan muara S. Cisadane, sehingga aktifitas sosial ekonomi yang dapat
mempengaruhi naiknya suhu di lokasi tersebut. Pengaruh MT juga mempengaruhi
pola distribusi suhu permukaan yang cenderung nilai suhu rendah bergerak ke
arah barat laut (Gambar 4a). Pola suhu bulan November 2005 sebelah timur lebih
tinggi dan muara S. Cisadane lebih rendah. Pola sebaran horizontal salinitas
bulan Juni 2005 bagian permukaan secara umum terbagi dua bagian, yaitu sebaran
salinitas rendah datang dari muara S. Cisadane bergerak kearah barat laut, dan
salinitas tinggi juga mendesak kearah darat, khususnya ke arah muara, baik dari
sebelah timur laut atau dari barat laut. Salinitas di sekitar perairan Estuari
Cisadane berkisar antara 0.317 – 32.502 psu. Massa air bersalinitas rendah
ditemukan di stasiun St.17 dan St.18, di daerah aliran Sungai Cisadane, dan
massa air bersalinitas tinggi masuk dari arah barat lokasi penelitian, dan
ditemukan di lapisan bawah permukaan, pada
stasiun St.6, St.7, St.14, St.15 dan menyusup hingga ke stasiun St.
Distribusi penampang
tegak suhu Juni 2005 antara sungai dengan laut diperoleh bahwa suhu di sungai
lebih rendah dan ke arah laut makin linggi. Apalagi desekitar stasiun St.8
sampai St.13, baik untuk bulan Juni 2005 atau November 2005. Pola suhu tersebut
menggambarkan adanya stratifikasi vertikal makin kearah S. Cisadane. Demikian juga pola salinitas secara vertikal
diperoleh bahwa salinitas rendah ada di kolom air sungai dan terus kearah laut
di bagian permukaan. Namun di bagian dekat dasar salinitas maksimum menuju ke
arah sungai. Sehingga terjadi adanya percampuran massa air bersalinias rendah
dan salinitas tinggi antara stasiun St.16 dan St. Pada daerah pertemuan dua
massa air di muara estuaria, massa air bersalinitas rendah pada lapisan
permukaan mengalir ke arah laut dan masssa air bersalinitas tinggi ada lapisan
dekat dasar mengalir ke arah sungai atau ke arah darat. Pola sebaran tegak suhu
bulan November 2005 diperoleh bahwa dari arah sungai lebih rendah dan mengalir
ke arah laut, bahkan antara St.8 dan St.13 diperoleh suhu lebih tinggi. Suhu
kolom air bulan Juni 2005 lebih tinggi dari bulan November 2005, ini menandakan bahwa salinitas Laut Jawa membawa
juga suhu yang lebih rendah. Demikain pula salinitas dari arah sungai yang
rendah mengalir ke arah laut dan bercampur di lepas pantai. Salinitas secara
keseluruhan di lapisan permukaan (SS) berkisar antara 31.79psu - 32.41psu, dan
di lapisan dekat dasar (SB) berkisar antara 32.13psu - 32.68psu. Jika
dibandingkan dengan salinitas Teluk Jakarta tahun 1977 (32.05psu) menunjukkan
bahwa salinitas perairan Cisadane tahun 2005 (32.10psu) telah mengalami
perubahan sebesar ~0.05psu selama 28 tahun. Nilai ∆S yang besar (antara 0.4°C
dan 0.6°C) pada profil salinitas, ditemukan pada stasiun St.5, St.6 dan St.7.
Nilai, ∆S, yang sedang, antara; 0.2 dan 0.4°C, ditemukan pada stasiun St.3, St.4,
St.8, St.9, St.11, St.13, St.14, dan St.15. Sedangkan nilai ∆S yang kecil,
antara 0 dan 0.2°C, ditemukan di stasiun 1, 2, 10, 12, dan 16. Variasi nilai ∆T
dan ∆S di 16 stasiun pengamatan, diperlihatkan pada kurva dalam.
Beda suhu antara lapisan permukaan dan dekat
dasar pada 16 stasiun pengamatan, memperlihatkan variasi nilai ∆ T lebih banyak
pada kisaran antara 0,001°C dan 0,698°C,
yang terjadi pada bulan Juni, September, Mei, Oktober dan Juni. Perbedaan yang
ekstrim terjadi pada bulan November, dengan kisaran antara; 0,031°C dan
1,407°C. Pada MPS (Mei-2004), nilai rata-rata ∆T di perairan ini mencapai; T ∆
= 0,281°C, dengan nilai berkisar antara; 0,016°C dan 0,502°C. MT pada Juni2003
dan Juni-2005, ada perbedaan nilai rata-rata suhu pada kolom air di perairan
ini, dimana pada Juni-2005, T∆ = 0,338°C, lebih tinggi dari Juni-2004, yang
mempunyai nilai T ∆ = 0,259°C. Kisaran nilai ∆ T pada Juni-2003 antara 0,005°C dan 0,569°C,
sedangkan pada Juni-2005 berkisar antara
0,001°C dan 0,605°C. Pada MPSI terjadi peningkatan nilai rata-rata suhu
pada kolom air di perairan ini dari tahun 2003-2005. Pada September-2003,
rata-rata suhu kolom air di perairan ini mencapai; T ∆ = 0,298°C, dengan nilai
kisaran antara 0,015°C dan 0,594°C. Pada Oktober-2004, nilai T ∆ = 0,429°C,
dengan nilai kisaran antara 0,067°C dan 0,698°C, sedangkan pada November 2005
memiliki nilai yang sangat ekstrim, dengan, T ∆ = 0,429°C, dan berkisar antara
0,031°C dan 1,407°C. Variasi musiman beda tempertur lapisan permukaan dan
lapisan dekat dasar di perairan Konsentrasi nilai salinitas di perairan ini
sangat dipengaruhi oleh sirkulasi massa air yang datang dari laut lepas (Laut
Jawa), dan masukan massa air tawar (debit) dari Sungai Cisadane, serta keadaan
curah hujan dan evaporasi atau musim. Pada MPS (Mei-2004), nilai rata-rata beda
salinitas pada kedua lapisan, S ∆ = 0,410psu, dengan kisaran antara; 0,005psu
dan
0,979psu.
Rata-rata curah hujan pada bulan ini mencapai nilai, P = 1,714 mm, dan tingkat
evaporasi, E = 74,016%. Pada musim timur, bulan Juni-2003, nilai S ∆ =
0,276psu, yang berkisar antara; 0,007psu dan 0,654 PSU, dengan rata-rata curah
hujan, P = 0,0 mm, dan tingkat evaporasi, E = 67,929%. Nilai rata-rata
salinitas pada Juni-2005, S ∆ = 0,373psu, dengan kisaran antara; 0,003psu dan
0,715psu. Rata-rata curah hujan pada bulan ini mencapai nilai, P = 0,678 mm,
dan tingkat evaporasi, E = 74,911%.
Pada MPD (September-2003), rata-rata beda
salinitas pada kolom air, S ∆ = 0,404psu, dengan kisaran antara; 0,007 psu dan
1,515 psu. Rata-rata curah hujan pada bulan ini mencapai nilai, P = 2,567 mm,
dengan tingkat evaporasi, E = 66,384%. Pada bulan Oktober2004, rata-rata
perbedaan salinitas pada kolom air, S∆ =
0,346psu, dengan kisaran antara; 0,025psu dan 0,835 psu. Rata-rata curah hujan
pada bulan ini mencapai nilai, P = 1,893 mm, dengan tingkat evaporasi, E =
67,536%. Nilai rata-rata salinitas pada November-2005, S ∆ = 0,226psu, dengan
kisaran antara; 0,002 PSU dan 0,665 psu. Rata-rata curah hujan pada bulan ini
mencapai nilai, P = 1,170 mm, dan tingkat evaporasi, E = 71,700%. Variasi
musiman nilai rata-rata dan kisaran beda suhu antara lapisan permukaan dan
lapisan dekat dasar di perairan ini
Perbedaan
suhu kolom air yang dominan antara lapisan permukaan dan dekat dasar ditemukaan
pada MPD (0,429°C pada Oktober 2004 dan 0,661°C pada November 2005). Beda
salinitas yang dominan antara kedua lapisan tersebut, ditemukan pada MPS (0,410
psu pada Mei 2004) dan MPD (0,404 psu pada September 2003), yang dipengaruhi
oleh curah hujan yang cukup tinggi pada kedua bulan tersebut. Nilai rata-rata
suhu dan salinitas pada kolom air dalam ketiga musim tersebut, mengalami
fluktuasi dalam kisaran suhu; 28,79°C hingga 30,00°C, dan salinitas; 32,50
hingga 33,12 PSU, yang diperlihatkan pada (Gambar 7a). Variasi beda suhu, ∆T
antara lapisan permukaan dan dekat dasar perairan pesisir Estuari Cisadane
dalam tiga musim, adalah konsep dari suhu, dimana, lapisan permukaan lebih
banyak mengenai energi dari cahaya matahari, dengan intensitas yang melemah ke
bawah permukaan. Perbedaan energi yang timbul karena perbedaan suhu di antara
bagian-bagian yang berdekatan dari sebuah benda dinamakan hantaran panas dalam
Halliday [16]. Fluktuasi suhu ini menyebabkan perubahan energi panas, ∆ E = mCp
∆ T, dimana, m = rata-rata densitas massa air * volume air yang dipengaruhi
suhu musiman sesuai dengan Halliday [16], Cp = 4000 J. Kg-1.°C-1, dan ∆T = beda
suhu kolom perairan dari pengamatan musim ke musim, dan perubahan energi panas
hasil perhitungan ditunjukan dalam.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Profil vertikal suhu dan
salinitas di perairan pesisir Estuari Cisadane mengalami perubahan di bawah
pengaruh musim MPS, MT dan MPD sebagai contoh diperolehnya waktu tinggal (time leg)
salinitas maksimum pada MPD adalah salinitas MT. Terbukti berdasarkan pola
sebaran secara horizontal dan vertikal dari interkasi antara air tawar
bersalinitas rendah dari muara Sungai Cisadane dengan salinitas tinggi dari
Laut Jawa adalah dipengaruhi juga oleh musim dan pasangsurut. Lapisan permukaan
lebih banyak mengenai energi dari cahaya matahari (musim), dengan intensitas
yang melemah ke bawah permukaan. Rata-rata suhu perairan Cisadane telah
mengalami pemanasan sebesar kira-kira 0.5°C selama 28 tahun terhadap rata-rata
suhu Teluk Jakarta tahun 1977 (28.5°C). Perubahan suhu tersebut dimungkinkan
oleh tekanan massa air sungai dari daratan dan ini tidak terlepas dengan massa
air Teluk Jakarta.
Daftar
Acuan
[1] K. Wyrtki, Physical oceanography of the
Southeast Asian Waters. Scientific results of Marine investigations of the
South China Sea and the Gulf of Thailand 1959-1961, Naga Report 2, Scripps
Inst. of Oceanogr., La Jolla, Calif. 1961, p.195. [2] H. Robert, Introduction to Physical
Oceanography, 2005, p.52. [3] S.A. Hsu,
Coastal Meteorology, Academic Press, Inc. Harcourt Brace Jovanovich,
Publishers. Toronto, 1988, p.260. [4]
J.R. Healy, Ph.D. dissertation, University of California, USA., 1964.
[5] G.L. Pickard, Descriptive physical
oceanography. An Introduction, Pergamon Press, Oxford, 1975, p.214. [6] M.J. Valencia, In: Chua T., J.A. Mathias
(Ed.), Universitas Sains Malaysia, Pulau Pinang, 1978, p.296.
[7] A.G. Ilahude, P. Sianipar, Pengamatan hidrologi
di Teluk Jakarta. Monitoring Teluk Jakarta. Laporan no.6 Pelayaran KM. Samudera
26-29 Januari 1977. LON-LIPI, Jakarta, 1977, p.9. [8] D. Arief, In: Nontji A. dan Djamali A. (Ed.),
Teluk Jakarta. Pengkajian fisika, kimia, biologi dan geologi tahun 1975-1979,
LON-LIPI, 1980, p.69. [9] Kastoro, S.
Birowo, In: Malikusworo Hutomo, Kasijan Romimohtarto dan Burhanuddin (Ed.).
Teluk Jakarta. Sumber daya, sifat-sifat oseanologis, serta permasalahannya,
LON-LIPI, 1977, p.151. [10] Kastoro, In:
Malikusworo Hutomo, Kasijan Romimohtarto dan Burhanuddin (Ed.). Teluk Jakarta.
Sumber daya, sifat-sifat oseanologis, serta permasalahannya, LON-LIPI, 1977,
p.179. [11] Hadikusumah, In: Sudjono, P.
Moersidik, S.S., Hartono D.M. dan Sulistyoweni (Ed.). Proc. Lingkungan Tropis.
IATPI 33, 2007. [12] Anon., Badan Meteorologi dan Geofisika.
Tanjung Priok – Jakarta Utara, 2003, 2004, 2005. [13] Anon., Badan Meteorologi dan Geofisika.
Bandara Cengkareng - Cisadane, 2003, 2004, 2005. [14] Anon., Laporan akhir
penelitian Arlindo dan efeknya pada stratifikasi massa air Laut Flores dan
sekitarnya. P2O – LIPI, 2005, p.36. [15] Anon., Laporan akhir studi dinamika
Selat Makassar serta interaksinya dengan daratan P. Kalimantan dan P. Sulawesi.
Program kompetitif Kalimantan Timur dan Bangka – Belitung – LIPI, 2004, p.146.
[16] R. Halliday, Physics, 3rd Edition, 1978, p.731.
Komentar
Posting Komentar