perbandingan perhitungan luas manual dan digital
STUDI
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN ALAT
TEODOLIT DIGITAL DAN MANUAL: STUDI KASUS
PEMETAAN SITUASI KAMPUS KIJANG
samilah
jurusan ilmu kelautan
ABSTRACT
Ground measurement
helps illustrate a situation of land map to ease a civil engineer determining
the center point of a building. From the situation map can determined the
further works such as determining the point of building, land leveling,
determining the point of the foundation and the volume of work for hoarding the
land. A tool used for measurement activities is theodolite. Theodolite serves
as a tool to determine the angle formed between the two points at the time of
measurement. Drawing a situation map requires the results of the point
measurement data. Theodolite is divided into two types, digital and manual.
This study compares measurements results using both digital and manual
theodolite performed at Kijang Campus, Binus University. From the comparison of
data processing generated large differences in the coordinate system on the
situation map with ranging from 1.31% to 322.67% on the abscissa axis and 0.39%
to 41.83% on the ordinate axis.
Keywords: ground
measurement, situation map, digital theodolite, manual theodolite
ABSTRAK
Kegiatan pengukuran
lahan membantu menggambarkan peta situasi suatu lahan untuk mempermudah
insinyur teknik sipil menentukan titik as bangunan di lapangan. Dari hasil peta
situasi ini dapat ditentukan pekerjaan selanjutnya yaitu penentuan as bangunan,
perataan lahan, penentuan titik pondasi dan volume pekerjaan untuk pengurugan
dan penimbunan lahan. Salah satu alat
bantu yang digunakan untuk kegiatan pengukuran adalah teodolit. Teodolit
berfungsi sebagai alat untuk menentukan sudut yang dibentuk antara dua titik
pada saat pengukuran. Dalam penggambaran peta situasi dibutuhkan hasil data
sudut pengukuran tersebut. Teodolit dibagi menjadi dua tipe yaitu digital dan
manual. Penelitian ini membandingkan hasil pengukuran menggunakan teodolit
digital dan manual yang dilakukan di Kampus Kijang, Universitas Bina Nusantara.
Dari hasil pengolahan data dihasilkan perbandingan besar perbedaan sistem
koordinat pada peta situasi dengan kisaran
1,31% hingga 322,67% pada sumbu absis dan 0,39% hingga 41,83% pada sumbu
ordinatnya.
Kata kunci: pengukuran
lahan, peta situasi, teodolit digital, teodolit manual
PENDAHULUAN
Kegiatan
awal yang dilakukan oleh kontraktor dalam pembangunan suatu proyek
infrastruktur seperti pembangunan gedung adalah penentuan titik-titik as
bangunan. Untuk mendapatkan hasil penetapan titik-titik as bangunan pada suatu
proyek perlu dilakukan aktifitas pengukuran (Lovat, 2007). Kegiatan pengukuran
ini dilakukan oleh tim yang disebut surveyor yang mengambil data lapangan
berupa sudut dan dimensi proyek yang ada di lapangan. Untuk kemudian data
lapangan dianalisis hingga menghasilkan data berupa peta situasi yang
mengambarkan koordinat titik-titik as bangunan dan kontur dari permukaan tanah.
Dari hasil peta situasi ini dapat di tentukan untuk pekerjaan selanjutnya yaitu
penentuan as bangunan, perataan lahan, penentuan titik pondasi, dan volume
pekerjaan untuk pengurugan dan penimbunan lahan. Salah satu alat bantu yang
digunakan untuk kegiatan pengukuran adalah teodolit. Teodolit berfungsi sebagai
alat untuk menentukan sudut yang dibentuk antara dua titik pada saat
pengukuran. Dalam penggambaran peta situasi dibutuhkan hasil data sudut
pengukuran tersebut (Kavanagh, 2004). Teodolit dibagi menjadi dua tipe yaitu
digital dan manual. Penelitian ini akan menghasilkan perbandingan seberapa
besar perbedaan sistem koordinat pada peta situasi untuk dikaji berdasarkan
teknik pemasangan dan analisis data yang dikerjakan.
Tujuan
dari penelitian ini adalah: (1) membuat perbandingan antara hasil pembacaan
alat teodolit digital dan manual; (2) mengetahui perbedaan hasil data
pengukuran antara teodolit digital dan manual; (3) memberikan informasi solusi
teknik pengambilan data pengukuran kedua tipe teodolit.
METODE
Ilmu
ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara
pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relatif
atau absolut titik-titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya,
dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif suatu
daerah. Pemetaan situasi adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang
mencakup penyajian dalam dimensi horizontal dan vertikal secara bersama-sama
dalam suatu gambar peta (Fish, 2007).
Untuk penyajian gambar peta situasi tersebut
perlu dilakukan pengukuran sebagai berikut: (1) pengukuran titik fundamental
(Xo, Yo, Ho dan ao); (2) pengukuran kerangka horizontal (sudut dan jarak); (3)
pengukuran kerangka tinggi (beda tinggi); (4) pengukuran titik detail (arah,
beda tinggi dan jarak terhadap titik detail yang dipilih sesuai dengan
permintaan skala). Pada dasarnya prinsip kerja yang diperlukan untuk pemetaan
suatu daerah selalu dilakukan dalam dua tahapan, yaitu: (1) penyelenggaraan
kerangka dasar sebagai usaha penyebaran titik ikat; (2) pengambilan data titik
detail yang merupakan wakil gambaran fisik bumi yang akan muncul di petanya.
Kedua proses ini diakhiri dengan tahapan penggambaran dan kontur.
Dalam pemetaan medan pengukuran sangat
berpengaruh dan ditentukan oleh kerangka serta jenis pengukuran. Bentuk
kerangka yang didesain tidak harus sebuah poligon, tapi dapat saja kombinasi
dari kerangka yang ada. Jenis pengukuran dalam ilmu ukur tanah (Fish, 2007) di
antaranya adalah sebagai berikut: (1) pengukuran horizontal – terdapat dua
macam pengukuran yang dilakukan untuk posisi horizontal yaitu pengukuran
poligon utama dan pengukuran poligon bercabang; (2) pengukuran beda tinggi –
pengukuran situasi ditentukan oleh dua jenis pengukuran ketinggian, yaitu
pengukuran sifat datar utama dan pengukuran sifat datar bercabang; (3)
pengukuran detail – pada saat pengukuran di lapangan, data yang diambil untuk
pengukuran detail adalah beda tinggi antara titik ikat kerangka dan titik
detail yang bersangkutan, jarak optik atau jarak datar antara titik kerangka
dan titik detail, dan sudut antara sisi kerangka dengan arah titik awal detail
yang bersangkutan, atau sudut
Studi Perbandingan
Hasil… (Andryan Suhendra)
1015
jurusan
magnetis dari arah titik detail yang bersangkutan. Kegiatan pengukuran
merupakan tahapan awal yang di lakukan pada kegiatan konstruksi. Tujuan
dilakukannya pengukuran adalah untuk menggambarkan peta situasi dari lahan yang
mencakup penyajian data dalam dimensi horizontal dan vertikal secara
bersama-sama dalam suatu gambar peta (Gambar 1).
Untuk
melakukan kegiatan pengukuran salah satu alat bantu yang digunakan adalah
teodolit. Dengan alat bantu teodolit membantu dalam menentukan sistem koordinat
dari suatu lahan dalam dimensi horizontal dan vertikal sehingga mempermudah
praktisi (engineer) dalam proses penggambaran ataupun penentuan sumbu as
bangunan. Alat teodolit terdiri dari dua tipe yaitu teodolit digital dan manual
(Gambar 2). Berdasarkan fungsinya kedua alat tersebut mempunyai tujuan yang
sama, salah satunya adalah sebagai alat bantu dalam proses penggambaran peta
situasi pada lokasi tertentu. Akan tetapi perbedaan kedua alat tersebut
terletak pada proses centring (penyetelan) alat dan pembacaan sudut
koordinat.
Untuk
dapat membuat gambar poligon yang baik dan akurat, mengacu dari hasil dari
pengukuran sudut dan jarak menggunakan teodolit digital dan manual perlu
ditentukan besar sudut dalam dan koordinat poligon yang kemudian dituangkan
dalam bentuk gambar poligon (Kavanagh, 2004).
Untuk menentukan posisi horizontal titik-titik di lapangan (Gambar 3),
dipakai dasar teori perhitungan posisi horizontal suatu titik sebagai berikut:
Rumus umum:
ijijij sindxx ϕ +=
ijijij cosdyy ϕ +=
dimana: x = Absis
daripada suatu titik y = Ordinat daripada suatu titik d = Jarak antara titik
asal dan titik tujuan φ = Azimuth dari titik asal ke titik tujuan i = Titik
asal j = Titik tujuan
Dilihat
dari bentuknya, poligon dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) poligon terbuka –
poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan
(Gambar 4); (2) poligon tertutup – poligon yang bermula dan berakhir pada suatu
titik yang sama; (3) poligon bercabang – poligon yang mempunyai satu atau lebih
titik simpul, yaitu titik tempat terbentuknya cabang.
Pada poligon ada dua macam pengikatan pada
titk-titik ujungnya, yaitu pengikatan azimuth dan pengikatan posisi
(koordinat).
Untuk poligon yang
kedua titik ujungnya terkait, baik azimuth maupun posisinya, ada tiga buah
syarat yang harus dipenuhi dalam perhitungannya, yaitu:
∑ ∑ ∑ °⋅+−−= ⎪ ⎭ ⎪ ⎬ ⎫ −−= −−=
......(2)..................................................180nα)(F
1).........(.................................................. cosd)y(yF sind)x(xF
iawalakhir ijijawalakhiry ijijawalakhirx ϕϕ ϕ ϕ ϕ
dimana:
Fx =
Salah penutup absis Fy = Salah penutup
ordinat F = Salah penutup azimuth n =
Jumlah titik poligon αi = Sudut ukuran
Persamaan (1) merupakan
kontrol jarak sepanjang sumbu X dan sumbu Y sedangkan persamaan (2) merupakan
persamaan kontrol sudut jurusan. Sudut yang diukur pada suatu poligon dapat
berupa sudut dalam atau sudut luar saja. Semua poligon yang diukur, baik sudut
dalam ataupun sudut luarnya, mempunyai persamaan kontrol jarak sepanjang sumbu
X dan sumbu Y seperti halnya persamaan (1). Sedangkan persamaan kontrol sudut
tidaklah demikian halnya. Di bawah ini diberikan beberapa bentuk persamaan
kontrol sudut:
Poligon Terbuka
Jika yang diukur sudut
dalam poligon: °⋅−α+ϕ−ϕ=
∑ϕ 180 n)(F iawalakhir Jika yang diukur sudut luar poligon: ( ) ° ⋅−α−ϕ−ϕ= ∑ϕ 180 nF
iawalakhir
Poligon Tertutup
Untuk poligon
tertutup: φakhir – φawal = 0 yang diukur
sudut dalamnya: ()° ⋅−−α= ∑ϕ 180 2nF i yang
diukur sudut luarnya: ()° ⋅+−α= ∑ϕ 180 2nF i
1018
ComTech
Vol.2 No. 2 Desember
2011: 1013-1022
Perhitungan posisi
horizontal titik dilakukan dengan menggunakan Metode Bowditch dengan
langkah-langkah perhitungan sebagai berikut:
Menghitung kontrol
sudut: Hitung koreksi untuk setiap sudut
ukuran.
ϕα ⋅= F n 1V
Hitung harga definitif
tiap sudut.
α+α=α Vikoreksi
Catatan: a. Koreksi
sudut merupakan bilangan bulat. b. Jika nilai koreksi sudut merupakan bilangan
pecahan, nilai koreksi harus dibuat bulat dan koreksi terbesar diberikan pada
sudut yang mempunyai jumlah sisi terpendek.
Menghitung sudut
jurusan definitif sisi poligon: Jika yang diukur sudut dalam poligon:
o
ii).1i(1i.i 180 +α−ϕ=ϕ
−+
Jika yang diukur sudut
luar poligon:
o
ii).1i(1i.i 180 −α+ϕ=ϕ
−+
Catatan: a. Untuk
poligon tertutup, maka sudut jurusan akhir sama dengan sudut jurusan awal. b.
Perhitungan azimuth sisi poligon dilakukan setelah sudut ukuran dikoreksi.
Menghitung kontrol
jarak: Jarak ukuran sisi poligon dan hasil hitungan sudut jurusan definitif
tiap sisi dapat digunakan untuk menghitung selisih absis dan selisih ordinat,
di mana:
ijijij sindx ϕ =Δ
ij ijij cos dy ϕ =Δ
Langkah-langkah perhitungan kontrol jarak
adalah sebagai berikut: Langkah 1: Hitung kontrol jarak sepanjang sumbu X dan
sumbu Y ( ) ∑Δ −−= ij awalakhirx x xxF ( ) ∑Δ −−= ij awalakhiry y yyF Langkah
2: Hitung koreksi absis dan ordinat.
Langkah 3: Hitung harga
definitif dari absis dan ordinat.
ijiij
ijijij y x η+Δ=ηΔ
ξ+Δ=ξΔ
Menghitung posisi horizontal tiap titik
poligon:
ijij
ijij Δη y y
Δξ x x += +=
studi perbandingan
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil pengukuran di lapangan akan diperoleh beberapa data dan setelah diolah
menggunakan persamaan-persamaan diperoleh hasil perbandingan antara teodolit
digital dan manual seperti ditunjukkan dalam grafik-grafik berikut ini (Gambar
7 – 17).
0 50 100 150 200 250
300 350 400
AB AH BA BC CB CD DC DE
ED EF FE FG GF GH HG HA AZIMUTH
DERAJAT
DIGITAL MANUAL
0,27
2,43
4,08
1,71
3,97
2,39 2,31 2,41
0,35 0,48
1,51
7,47
2,572,44
0 1 2 3 4 5 6 7 8
ABCDEFGH TITIK
m
Absis (X) Ordinat (Y)
Gambar 8. Perbedaan
koordinat titik poligon.
- 1,57
10,22
15,29
48,71
4,93
2,78
5,59
16,53
1,20 1,73 5,73
19,84
62,71
9,01
0 10 20 30 40 50 60 70
ABCDEFGH TITIK
%
Absis (X) Ordinat (Y)
Gambar 9. Persentase
perbedaan koordinat titik poligon.
1020 ComTech
Vol.2 No. 2 Desember
2011: 1013-1022
Gambar 12. Perbedaan
koordinat detail titik C.
Gambar 13. Perbedaan
koordinat detail titik D.
Studi Perbandingan
Hasil… (Andryan Suhendra)
1021
Gambar 14. Perbedaan
koordinat detail titik E.
Gambar 15. Perbedaan
koordinat detail titik F.
Gambar 16. Perbedaan
koordinat detail titik G.
Gambar 17. Perbedaan
koordinat detail titik H.
1022
ComTech
Vol.2 No. 2 Desember
2011: 1013-1022
PENUTUP
Berdasarkan hasil
pengukuran dan pengolahan data alat teodolit digital dan manual, diperoleh
kesimpulan sebagai berikut: Besar sudut dalam poligon hasil pengukuran
menggunakan teodolit manual sebesar 1080o00’13” lebih mendekati batas dari
poligon tertutup untuk 8 titik (1080o) jika dibandingkan dengan hasil dari alat
teodolit digital sebesar 1080o00’20”. Dalam pelaksanaan pengukuran di lapangan,
penggunaan alat teodolit digital relatif lebih mudah namun sangat sensitif.
Detail perbedaan dari kedua alat tersebut adalah sebagai berikut: (1)
efektifitas waktu pembacaan sudut – alat teodolit manual relatif kurang efektif
karena dibutuhkan ketelitian dalam pembacaan sudut terutama pembacaan detik.
Sedangkan pada alat teodolit digital, pembacaan dipermudah dengan adanya layar
yang menampilkan hasil bacaan sudut; (2) kemudahan penyetelan alat – teodolit
manual cenderung kurang sensitif seperti alat teodolit digital sehingga untuk
para pemula sangat dianjurkan untuk menggunakan alat teodolit manual sehingga
dapat mempunyai kemampuan untuk mendeteksi penyetelan alat yang benar baik pada
penggunaan alat teodolit manual maupun digital; (3) jangkauan pengukuran –
jangkauan dan fokus alat teodolit digital lebih jauh sehingga dapat digunakan
untuk area yang lebih luas; (4) detail pembacaan sudut – hasil bacaan
menggunakan alat teodolit manual lebih detail dibandingkan dengan hasil bacaan
digital karena pada alat teodolit manual rentang skala dalam satu detik
sedangkan alat teodolit digital dalam rentang 10 detik.
Hasil pengolahan bacaan
kedua alat teodolit berupa sudut azimuth memberikan hasil yang hampir sama
dengan perbedaan antara bacaan alat digital dan manual sebesar 5,54o
(rata-rata). Sedangkan untuk koordinat poligon ditemukan perbedaan rata-rata
sebesar 7,94% pada sisi absis dan 21,47% pada sisi ordinat. Perbedaan cukup
besar ditemukan pada koordinat titik detail, dengan besar perbedaan rata-rata
3,48% hingga 88,52% untuk absis dan setiap titik detail serta 2,35% hingga
28,57% untuk ordinatnya. Penggunaan alat teodolit manual tetap diperlukan
terutama dalam proses pembelajaran penggunaan alat sehingga kemampuan untuk
pengaturan/penyetelan alat akan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Fish, J. C. L. (2007).
Coordinates of Elementary Surveying. London: Curzon Press
Kavanagh, B. F. (2004).
Surveying with Construction Application, (edisi 5). Ohio: Pearson Prentice
Hall.
Lovat, Higgins Arthur. (2007). Elementary
Surveying. Baltzell Press
Komentar
Posting Komentar